Rabu, 10 Agustus 2011

KH. Taufiqul Hakim



Image

Taufiqul Hakim lahir di Jepara pada tanggal 14 juni 1975. Ia adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara putra pasangan Supar dan Hj. Aminah. Kedua orangtuanya hanya petani desa biasa. Dan profesi itu menurun kepada hampir semua putra-putrinya.

Hingga kini, dari tujuh bersaudara, hanya Taufiqul Hakim yang berprofesi sebagai guru umat alias kiai. Karena keberhajaan keluarga kampung itu, saat Taufiq lahir, tidak ada yang menduga, bocah itu akan lahir menjadi ulama muda yang menghasilkan karya yang mendunia.

Pendidikannya dimulai dari pendidikan TK, SD dan MTs di desanya. Kemudian dia melanjutkan pada jalur informal yaitu pesantren. Pilihannya jatuh pada Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oelh KH. Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU). Selain itu ia juga menimba ilmu Madrasah Aliyah dan Diniyyah di lingkungan Perguruan Islam Matholiul Falah Kajen, Pati. Sebuah madrasah bergengsi di seantero pesisir utara Jawa Tengah, yang juga asuhan Mbah Sahal dan ulama kharismatik KH. Abdullah Salam, yang telah melahirkan banyak ualama berbobot.

Melalui sistem pendidikan ketat, terutama di bidang ilmu alat dikedua almamaternya itulah Taufiqul Hakim memperoleh bekal ilmu agama yang terbilang cukup. Tak hanya ilmu alat dan ilmu agama, Perguruan Mathaliul Falah juga terkenal dalam hal memperkenalkan dan mengakrabkan santri-santrinya dengan tradisi tulis-menulis.

Tradisi tersebut secara tak langsung juga membuat santri terbiasa dengan pola berpikir yang sistematis dan terkonsep. Tak mengherankan jika kelak kemudian banyak alumninya yang menghasilkan karya-karya tulis berbobot, bahkan sebagian menggeluti sebagai penulis muda NU yang produktif.

Tradisi dan budaya positif itulah yang belakangan memberi modal yang lebih dari cukup bagi Taufiqul Hakim untuk menghasilkan Amtsilaty, dan karya-karya lain yang jumlahnya sudah lumayan banyak.

Karya-karyanya

Meski disibukkan dengan aktifitas mengajar dan mengisi pelatihan di berbagai kota, Taufiqul Hakim masih tetap produktif menulis. Saat ini, dia telah menulis 30-an buku selain Amtsilaty seperti: Aqidaty, Syariaty, Mukhatrul Ahadits (7 jilid), Muhadatsah, kamus at Taufik, Fiqh Muamalah 1-2, fiqh Jinayah, Fiqh Thaharah, Fiqh Munakahat, fiqh Ubudiyyah, dan Tafsir al Mubarok.

Saat ini Taufiqul Hakim juga tengah mengujicobakan metode praktis belajar fiqh dan balaghah. Selain itu ia juga sedang menyiapkan penyusunan buku metode efektif penyelenggaraan majlis ta’lim.

Demikianlah, dengan gagasan brilian dan usianya yang relative muda, masih akan panjang menghiasi khazanah keilmuwan pesantren nusantara.

Berawal Dari Kegelisahan
Meski semua santri diwajibkan mengahafal kitab Alfiyyah, tidak semuanya mengerti kegunaan seribu bait syair kitab itu dalam membaca kitab kuning, termasuk diantaranya Taufiqul Hakim. Tak menyerah dengan keadaan, ia mengutak-atik syair-syair Alfiyyah. Hasilnya sebuah kesimpulan dari ribuan nadham hanya 150 bait yang menjadi pokok pelajaran nahwu.

Penemuan Metode Membaca Kitab ‘Amstilaty’
Dari situ ia melihat muridnya kesulitan menghafal seribu bait Alfiyyah, yaitu syair arab yang mengandung hukum dan aturan dalam ilmu nahwu (tata bahasa) untuk bias membaca Arab gundul. Taufiqul Hakim berfikir untuk mencari bait-bait yang terpenting saja. Ia memilih 150 bait saja.

Seratus lima puluh bait itu menjadi cikal bakal metode cepat membaca huruf arab tanpa harakat atau tanda baca.

Melalui pengujian selama enam tahun, ia akhirnya menemukan rumus ajaib itu pada ramadhan 2001. Dinamainya Amtsilaty, yang berarti contoh-contohku. Metode baru itu ia uji cobakan pada empat rekannya, berhasil. Tapi, ketika diajarkan pada murid lain yang masih muda, tak sukses. Ia kemudian mencari terobosan dengan memberikan banyak contoh dan disampaikan dengan lagu. Murid pun betah belajar. Dalam enam bulan mereka bisa membaca Arab gundul. Padahal, dengan metode lama, butuh 6-9 tahun. Yang menarik, murid yang sudah menyelesaikan buku pertama bisa mengajar siswa baru. Begitu seterusnya, sehingga proses belajar bias lebih cepat.

Untuk lebih memperkenalkan metode ini, Taufiqul Hakim mengantar muridnya yang lulus ke rumah orang tuanya. Sang murid mempraktekkannya di depan orang tua. Dari sini, metode itu menyebar dikawasan Bangsri. Tapi Taufiqul Hakim tak digubris ketika memperkenalkan metodenya di Jepara. Peluncuran buku temuannya pada 2002 sepi pengunjung. Tak putus asa, ia membawanya ke Mojokerto dan sukses. Metodenya menjadi pilihan di pesantren pesantren tradisional. Sejak itu, metode Amtsilaty menyebar dengan cepat.

Edisi awal buku itu hanya berupa foto kopi. Kemudian karena banyak permintaan, diperbanyak dengan mesin percetakaan yang besar yang sanggup mencetak 2000 eksemplar setiap hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar